Blog

ID

Agama Sebagai Komoditas: Pengkhianatan Sejarah Ulama Klasik dan Lahirnya Kasta “Ulama-Preneur”

0

Jika kita membaca lembaran sejarah para nabi dalam Al-Qur’an, ada satu kalimat yang selalu diulang secara konsisten oleh Nuh, Hud, Saleh, Luth, hingga Muhammad saat berhadapan dengan kaumnya: “Wa maa as-alukum ‘alayhi min ajr” (Dan aku tidak meminta imbalan apa pun kepadamu atas seruanku ini).

Dakwah, pada masa kelahirannya, adalah sebuah pengorbanan berdarah. Ia bukan profesi, melainkan pengabdian mutlak untuk membebaskan akal manusia. Namun, jika kita melihat panggung agama hari ini, pesan pembebasan itu telah dibajak. Ia dimutasi menjadi model bisnis yang sangat rapi oleh sebuah kasta klerikal modern yang menjadikan mimbar suci sebagai etalase komersial.

Untuk memahami betapa parahnya penyimpangan hari ini, kita harus melihat cetak biru (blueprint) para ulama klasik di masa keemasan Islam. Mereka sangat memahami satu hukum besi sosiologi: Siapa yang membiayaimu, dia yang akan mengendalikan lisanmu.

Agar terhindar dari penyakit people pleaser (menyenangkan penguasa atau massa) dan demi menjaga kemurnian fatwa, para ulama klasik membangun benteng kemandirian finansial yang kokoh dari jalur sekuler. Imam Abu Hanifah bukanlah penceramah bayaran; beliau adalah saudagar kain sutra yang sangat kaya di Kufah, yang membiayai sendiri majelisnya dan menanggung hidup murid-murid miskinnya. Abdullah bin Mubarak adalah seorang eksportir-importir lintas negara yang menggunakan keuntungan dagangnya untuk membangun infrastruktur publik dan membiayai ulama lain. Sementara Imam Ahmad bin Hanbal memilih memungut sisa gandum saat panen dan menenun sabuk demi menolak sumbangan dari khalifah.

Mereka menghindar dari gelar-gelar kebesaran agama. Bagi mereka, menerima upah dari mengajarkan ayat Tuhan adalah sebuah kehinaan moral. Ulama klasik berbisnis di pasar umum, agar mereka bisa mengajarkan agama secara gratis kepada umat.

Namun, mari kita putar waktu ke abad ke-21. Apa yang terjadi hari ini adalah sebuah ironi dan kebalikan yang mengerikan. Oknum tokoh agama modern melakukan hal yang sebaliknya: Mereka mengajarkan agama (tampak “gratis” di YouTube atau majelis) justru sebagai alat marketing untuk memonopoli pasar dari jamaahnya sendiri.

Lalu lahirlah kasta “Ulama-Preneur”. Begitu status feodal sebagai ulama agung terbentuk, jamaah akan mengalami kematian nalar kritis. Apapun yang diucapkan sang tokoh dianggap kebenaran mutlak. Di titik buta inilah bisnis dimulai. Jamaah yang tadinya datang untuk mencari Tuhan, dikanalisasi menjadi captive market (pasar tawanan) untuk membeli produk sang ustaz. Mulai dari biro umrah, busana muslim, skincare, hingga air mineral kemasan, semuanya dijual dengan narasi manipulatif: “Membeli produk guru kita adalah bagian dari jihad ekonomi dan sedekah.”

Ini adalah perbudakan psikologis berkedok agama. Sang ustaz turun dari mobil mewahnya, dikawal ketat bak seorang kaisar, dengan rate card (tarif) puluhan juta per jam tayang dan daftar riders (permintaan fasilitas) yang mengalahkan artis pop. Sementara itu, umatnya yang berpenghasilan UMR duduk berdesakan, menyumbangkan uang receh terakhir mereka demi membeli ilusi bernama “keberkahan”.

Lebih fatal lagi, kita kini hidup di era Attention Economy (Ekonomi Perhatian) di mana algoritma menyukai emosi dan kontroversi, bukan kedalaman substansi. Ketika pendapatan seorang penceramah bergantung pada jumlah views AdSense, subscribers, dan undangan beramplop tebal, lisan mereka otomatis tergadaikan. Mereka memodifikasi materi ceramah hanya untuk menyampaikan apa yang suka didengar jamaah, bukan apa yang perlu didengar jamaah.

Tafsir Al-Qur’an yang mendalam dan rasional digusur oleh konten lawakan akhir pekan, kisah mistis, atau janji-janji instan masuk surga. Agama didiskon habis-habisan kehilangan taringnya untuk mengkritik ketidakadilan sosial, karena sang penceramah takut kehilangan jumlah penonton.

Keberanian untuk menolak gelar-gelar artifisial seperti “Ustadz”, “Kiai”, atau “Imam” hari ini bukanlah bentuk arogansi, melainkan sebuah kebersihan intelektual. Itu adalah deklarasi perlawanan untuk tidak ikut serta dalam sirkus feodalisme agama.

Tuhan Yang Maha Kuasa tidak membutuhkan makelar. Rahmat Tuhan tidak bisa dibeli melalui proposal donasi majelis, dan tiket surga tidak ditentukan oleh seberapa banyak Anda memborong barang dagangan penceramah. Selama umat Islam menolak menggunakan akalnya dan terus meromantisasi kasta klerikal ini, selama itu pula mereka hanya akan menjadi sapi perah bagi orang-orang yang menjadikan jubah agama sebagai seragam bisnis.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *